Sekian lama saya menantikan momen untuk menonton film A Separation, sebuah film asal Iran karya sutradara dan penulis Asghar Farhadi. Tidak lain dan tidak bukan, ketertarikan saya terhadap film ini meledak ketika melihat kesuksesan film ini sebagai film asal Iran pertama yang mampu menembus nominasi dan memenanginya di ajang Academy Awards, Golden Globe, bahkan menjadi film pertama yang mendapatkan tiga penghargaan sekaligus pada ajang Berlin International Film Festival. Film ini banyak menuai kritikan positif dari pada kritikus film, ramai pula dibicarakan oleh para pecinta film-film arthouse dan movie blogger. Keajaiban datang ketika 21 Cineplex memutuskan untuk mendistribusikan film ini di beberapa bioskop di ibukota. Sebuah kejutan yang tidak terkira bagi penonton reguler 21 Cineplex melihat ada film kelas arthouse bertengger di deretan pilihan film bioskop.
Film dibuka dengan adegan pasangan suami istri Nader dan Simin yang sedang mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Dengan penonton yang mengambil sudut pandang hakim, kesaksian dari Nader dan Simin seakan sebuah prolog cantik nan elegan akan kisah yang hendak diceritakan oleh Asghar Farhadi dalam film ini. Ayah dari Nader mengidap Alzheimer dan tidak mengenali lagi putranya, sementara Simin yang mendapatkan kesempatan untuk keluar dari negeri Iran memaksa Nader dan anaknya untuk pergi dari rumah demi kehidupan yang lebih baik. Nader pun dengan tegas menolak rencana itu demi merawat ayahnya yang sakit. Pertentangan tersebut yang kemudian membawa Nader dan Simin menghadapi serentetan kejadian yang menambah rumit situasi.
Film ini menjustifikasi kecintaan saya terhadap film-film Iran yang sukses di dunia internasional. Walaupun track record tontonan film-film Iran saya hanya bisa dihitung dengan jari, namun saya menemukan suatu hal yang khas dari sinema Iran; ide dasar sederhana dan memotret interaksi antar-manusia yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lihat saja kisah Nader dan Simin ini, mungkin kisah pertengkaran suami-istri yang berujung pada perceraian telah kita saksikan ratusan kali di layar kaca maupun layar lebar, maupun sangat familiar kita temui di dunia nyata. Namun dengan naskah nyaris sempurna dari Asghar Farhadi, dengan berbagai konflik dan kejutan di sepanjang film - ditambah dengan twist yang efektif di penghujung film, membuat film ini seakan tontonan menegangkan dan sangat powerful.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Prolog film yang menempatkan penonton di sudut pandang sebagai hakim, adalah sebuah simbol cerdas bagaimana Asghar Farhadi yang memang ingin agar masing-masing penonton menentukan penilaiannya sendiri terhadap apa yang terjadi terhadap Nader dan Simin. Penonton yang akan menjadi hakim, yang berusaha keras menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Belum lagi bagaimana naskah yang disusun secara cerdas ini sukses membuat penonton tergoda untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas rentetan kejadian malang yang menimpa Nader, Simin, dan orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, Asghar Farhadi juga sangat sabar dalam membuka tirai fakta, lapis demi lapis, demi para penonton dapat menikmati dinamika dari interaksi para karakter akibat aksi-reaksi yang terjadi sepanjang jalan cerita. Kejutan-kejutan plot yang ada nyaris di setiap kuartal dalam film ini mampu membuat saya terpekik dalam diam. Good job, Mr. Asghar!
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Sepanjang film, penonton disuguhkan oleh hal-hal dualisme yang disajikan di layar. Bagaimana Nader dan Simin yang memiliki keinginan yang saling bertentangan. Bagaimana Nader yang berselisih dengan Razieh si pengasuh ayahnya, hingga bagaimana Nader-Simin berselisih dengan Razieh-Hodjat. Tidak hanya secara fisik namun juga secara tingkah laku; apakah Nader/Simin/Razieh berbohong atau tidak, atau lebih jauh lagi - apakah berbohong itu murni sebuah kesalahan? Betapa penonton seakan diarahkan untuk memilih salah satu diantaranya lalu menjalani hidup dengan satu pilihan tersebut. Ditambah dengan bagaimana kebiasaan masyarakat modern yang ada di saat ini untuk memilih salah satu dari hal dualisme tersebut, yang terlegitimasi pula oleh aturan hukum dan agama yang berlaku. Kesan ini pun memuncak di ending film yang terbilang cukup adil dan menyerahkan kembali interpretasi film ini kepada penonton sebagai "hakim".
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Namun tidak ada yang salah dengan keberpihakan tersebut. Pun tidak ada yang salah dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku dari para karakter yang saling terhubung satu dengan yang lain dalam film ini. Karena jika direnungi lebih dalam lagi, film ini bukan ingin bercerita tentang hitam-putih benar-salah baik-buruk, namun lebih ke sebab-akibat. Setiap tindakan, sekecil apapun, adalah sebuah intervensi sosial yang pasti akan membawa dampak terhadap orang lain di sekitar kita. Terlepas apakah dampat tersebut berupa positif atau negatif, namun film ini memotret bagaimana jika ada individu yang memilik berbagai pilihan tindakan namun memilih untuk melakukan satu tindakan spesifik tersebut dan menimbulkan efek tertentu kepada orang lain di sekitarnya. Reaksi berantai pun akan terjadi, permasalahan semakin rumit, dan akar permasalahan pun menjadi semakin kabur. Ketika emosi telah mencapai batasnya, insting manusia yang membawa setiap individu yang sudah jatuh terpuruk untuk saling menyalahkan mereka yang dirasa bertanggung jawab memulai semua hal ini.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Yes, ini adalah salah satu drama terbaik yang saya tonton di tahun 2012.
Iran | 2011 | Drama | 123 mins | Aspect Ratio 1.85 : 1
- Won for Best Foreign Language of the Year, Nominated for Best Writing Original Screenplay (Asghar Farhadi), Academy Awards, 2011.
- Won for Best Foreign Language Film, Golden Globes, 2011.
- Nominated for Best Film Not in the English Language, BAFTA Awards, 2011.
- Won for Golden Berlin Bear (Asghar Farhadi), Prize of the Ecumenical Jury (Asghar Farhadi), Reader Jury of the "Berliner Morgenpost" (Asghar Farhadi), Silver Berlin Bear Best Actor (Babak Karimi, Ali-Asghar Shahbazi, Shahab Hosseini, Peyman Moadi), Silver Berlin Bear Best Actress (Leila Hatami, Sareh Bayat), Berlin International Film Festival, 2011.
Rating?
9 dari 10
- sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Oktober 2012 -






sebuah contoh film yg sangat bagus untuk perfilman kita; membuat karya yg simpel/humanis, cerita fokus, karakter kuat dan yg paling penting, tidak menggurui (penyakit film kita yg paling jelek).
ReplyDelete