Get Low

Sobekan tiket bioskop tertanggal ulang tahun gue, 26 Januari 2011 adalah Get Low. Gue yang sebelumnya belum pernah mendengar tentang film ini, tertarik karena melihat posternya yang sederhana dan menarik. Setelah melihat posternya, gue pun mencari tahu lebih lanjut tentang film ini lewat sinopsisnya, yang ternyata juga menjanjikan plot cerita yang berbeda dari yang lain. Belum lagi dengan embel-embel inspired by true events.

Berlatar tahun 1930-an, Felix Bush (Robert Duvall) adalah seorang penyendiri, yang hidup di sebuah rumah di tengah hutan. Kemisteriusannya sudah menjadi cerita orang-orang di kota terdekat, dimana tak ada seorang pun yang mau mengenal lebih dekat dengannya. Satu hari setelah seorang teman baiknya meninggal dan ia sadar umurnya sudah tidak lama lagi, ia memutuskan untuk mendengar dan mengklarifikasi cerita-cerita tentangnya yang beredar di masyarakat. Ia pun meminta tolong kepada Frank (Bill Murray), seorang kepala rumah pemakaman setempat, untuk "get low" - menggelar acara pemakaman untuk dirinya, selagi ia masih hidup. Dengan begitu Felix bisa mendengar cerita-cerita orang tentangnya, dan juga bisa menceritakan rahasia tentang masa lalunya.

Menurut gue ini sebuah premis yang menarik; menggelar acara pemakaman selagi "yang mau dimakamkan" masih hidup. Mempelajari karakter seorang Felix Bush, lebih menarik lagi ketika gue menemukan alasan-alasan apa yang membuat ia memutuskan untuk menggelar acara pemakaman selagi ia masih hidup. Dengan kesehatannya yang semakin menurun, ia sadar bahwa umurnya sudah tidak lama lagi. Lalu ia sadar bahwa di masyarakat sudah terlanjur lama beredar cerita-cerita aneh bin negatif tentang dirinya, dimana ia tidak mau cerita-cerita itu yang diingat oleh orang banyak ketika ia sudah berada di dalam liang kubur.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 25 Januari 2011 adalah Black Swan. Pertama kali gue melihat trailer film ini karena rekomendasi dari seorang teman adalah sekitar 6 bulan yang lalu. Benar-benar penantian yang panjang, engga sabar, dan melelahkan untuk akhirnya bisa nonton film ini. Apalagi setelah dijustifkasi oleh banyaknya penghargaan yang diraih oleh film ini, termasuk Natalie Portman yang mendapat gelar Best Actress di Golden Globe 2011.

Nina (Portman) adalah seorang penari balet di sebuah sanggar di New York yang hidupnya didedikasikan untuk tari balet. Dibesarkan oleh ibunya yang obsesif dan posesif yang dulu juga seorang penari balet, Nina mencoba mendapatkan dan mempertahankan peran utama di produksi terbaru mereka - Swan Lake. Swan Princess membutuhkan seorang penari balet yang bisa memerankan dua sisi sekaligus; White Swan yang polos dan anggun, serta Black Swan yang licik dan sensual. Nina adalah pilihan pertama dari sutradara Thomas Leroy (Vincent Cassel) karena cocok memerankan White Swan, namun Lily (Mila Kunis) juga cocok memerankan Black Swan. Ketika dua pedansa muda ini bersaing, Nina berusaha keras untuk mengeluarkan sisi gelapnya, yang malah mengancam untuk menghancurkan dirinya sendiri.
It's very nice, but I knew the white swan wouldn't be your problem. The real work would be your metamorphosis into her evil twin.
Wow, wow, dan wow. Kira-kira sebanyak itu juga gue merasakan cinematic-orgasm sampai sekujur tubuh. Penantian yang panjang, ekspektasi yang tinggi, rasa penasaran yang besar, semua terbayar dengan lunas bahkan melebihi ekspektasi gue yang sudah lumayan tinggi. Jujur, detik-detik sebelum film dimulai gue rada takut akan ekspektasi yang sudah gue pasung sedemikian tinggi, dan lagi dengan jalan cerita yang kurang lebih sudah gue tahu - apalagi setelah melihat trailernya puluhan kali semenjak enam bulan lalu. Tapi ternyata dengan bergulirnya jalan cerita, sulit rasanya untuk menebak adegan apa yang akan muncul selanjutnya - apalagi endingnya. Kejutan demi kejutan dihadirkan dan sukses mengernyitkan dahi penonton. Ditambah dengan eksekusi ending yang megah dan ... menggigit.

baca selengkapnya...

NEDS

Sobekan tiket bioskop tertanggal 22 Januari 2011 adalah NEDS. Ada beberapa hal spesial yang membuat gue menunggu-nunggu film ini. Film ini akan memberikan secuil potret kemiskinan pada tahun 1973 di kota yang sekarang gue tinggali, Glasgow. Selain itu, cerita dalam film ini yang ditulis dan disutradarai oleh Peter Mullan, akan fokus pada anak-anak muda yang kebetulan gue bekerja untuk mereka di salah satu tempat kerja dalam program kerja sosial gue. Di awal kedatangan di kota ini pun, gue sudah pernah dengar tentang julukan NEDS ini, Non-Educated Delinquents, yang merujuk pada anak-anak sekolah dari kelas pekerja yang kelewat nakal dan hobi tawuran antar-geng (baca artikel wikipedia disini). Walaupun akhir-akhir ini stereotipe tersebut telah meruncing pada anak-anak muda yang tidak sekolah, tidak punya rumah, dan (sayangnya) juga melekat secara fashion; mereka yang menggunakan jumper dan celana training satu warna.

Film ini bercerita seputar dinamika dan perkembangan dari John McGill, seorang anak dari keluarga dengan kelas sosial ekonomi menengah ke bawah. Sejak kecil, John selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di kelas dan di sekolahnya. Apalagi dengan beban dari kepala sekolahnya yang menuntut John untuk tidak mengikuti jejak kakaknya yang telah menjadi seorang berandalan. Selain di sekolah, John dan adik perempuannya pun berusaha bertahan di dalam rumahnya sendiri ketika ayahnya yang selalu pulang dalam keadaan mabuk setiap malam. Suatu hari, John dipalak oleh geng lokal yang malah membuat ia bergabung dengan geng tersebut. Titik balik ini pun membuat John tidak saja tertarik untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya, tapi juga menjadi yang terbaik di dalam gengnya dan juga di area tempat tinggalnya.

Bagi gue, menonton film ini bagaikan melihat visualisasi dari cerita-cerita orang lokal tentang bagaimana keadaan kota Glasgow dulu. Apalagi di area tempat gue tinggal ternyata terkenal sebagai salah satu area yang paling "berbahaya" karena banyak drug dealers yang tinggal dan beroperasi disini, ditambah seringnya tawuran antar-geng yang terjadi. Beruntung ketika gue datang disini, keadaan telah jauh berubah menjadi lebih baik. Namun di salah satu tempat kerja gue yang menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak muda tunawisma, gue menjadi memiliki pengalaman secara langsung berinteraksi dengan para anak muda yang terkadang ditempeli label NEDS ini. Jujur, dalam setiap interaksi gue dengan mereka, jarang sekali gue menanyakan bagaimana keadaan keluarga mereka atau masa lalu mereka karena gue tahu topik itu cukup sensitif, walaupun rasa penasaran gue selalu ada. Namun film ini kurang lebih bisa menjawab rasa penasaran gue tentang bagaimana seorang anak yang pada dasarnya baik, namun bisa menjadi kecanduan alkohol dan ganja, tukang palak, tukang berantem, dan sebagainya.

baca selengkapnya...

The Next Three Days

Sobekan tiket bioskop tertanggal 20 Januari 2011 adalah The Next Three Days. Selalu sayang untuk melewatkan film-filmnya Russel Crowe. Apalagi di sebuah film yang disutradarai oleh Paul Haggis, sutradara dan penulis pemenang Oscar. Tapi kita lihat apakah Hollywood akan kembali sukses melakukan remake, yang kali ini berasal dari film perancis, Pour Elle (2008).

Lara Brennan (Elizabeth Banks), seorang istri dan ibu rumah tangga biasa dituduh dan dipenjara karena diduga telah melakukan pembunuhan terhadap bos di kantornya. Segala macam bukti dari tempat kejadian perkara, termasuk sidik jarinya yang ditemukan di benda yang digunakan untuk membunuh, mengarah dan memberatkan Lara. John Brennan (Russel Crowe) berusaha keras lewat jalur hukum untuk membebaskan istrinya namun tidak menemukan sedikitpun celah. Ketika merasa usaha membebaskan Lara lewat jalur legal tidak kunjung membuahkan hasil, John pun berniat untuk membebaskan istrinya untuk kabur dari penjara.

Film-film dengan tema kabur dari penjara bukan hal yang baru di dunia perfilman layar lebar maupun serial tv. Ada beberapa film dengan tema tersebut yang entah lebih fokus pada drama atau pada segi aksinya. Film ini pun tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali tindakan kabur dari penjara itu dilakukan oleh orang yang benar-benar amatir namun cerdas. Menarik juga melihat proses dan perkembangan seorang guru sekolah yang tidak pernah melakukan tindakan kriminal sebelumnya, belajar untuk menggunakan senjata dan melakukan apapun untuk membantu istrinya kabur dari penjara.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 18 Januari 2011 adalah Blue Valentine. Tidak ada hal spesial yang meningkatkan ketertarikan gue akan film ini selain melihat materi promosi film ini berupa postcard. Entah kenapa dari desain postcard yang kecil itu, font judul, font cast, pose dari Ryan Gosling dan Michelle Williams membuat gue mendapatkan feeling yang kuat untuk menonton film ini. Masuknya nama kedua karakter utama tersebut dalam nominasi Golden Globe sebagai Best Perfomance by an Actor/Actress hanyalah sebagai justifikasi bagi gue untuk mengikuti feeling gue tersebut. Sebagai tambahan, Ryan-Michelle adalah satu dari tiga pasangan aktor/aktris yang dinominasikan bersama dalam satu film yang sama pada kategori tersebut di Golden Globe tahun ini (selain Jolie-Depp di The Tourist dan Gyllenhaal-Hathaway di Love and Other Drugs).

Film ini bercerita tentang menemukan cinta dan kehilangan cinta yang diceritakan dengan gaya maju mundur dengan momen "masa kini" dan "masa lalu". Potret jujur ini menceritakan bagaimana sepasang suami-istri, Dean dan Cindy, yang menghabiskan semalam di sebuah motel sebagai time-out dari anak mereka dalam usaha untuk menyelamatkan kehidupan perkawinan mereka

Ini salah satu asyiknya menonton film tanpa membaca sinopsis maupun melihat trailernya terlebih dahulu - bagaikan datang dan duduk di dalam bioskop sebagai gelas kosong yang siap menampung air. Tanpa ekspektasi apa-apa, setiap menit adegan yang muncul di layar lebar benar-benar memukau mata, telinga, pikiran, dan hati gue. Film drama romantis memang bukan barang baru lagi lantaran rasanya setiap bulan ada 3-4 film drama romantis yang ditayangkan di bioskop. Banyaknya film drama romantis ini membuat cerita dari masing-masing film menjadi kurang menarik lagi karena jalan cerita yang mudah tertebak atau film dipenuhi oleh rayuan-rayuan dan dialog-dialog cheesy. Sepanjang ingatan gue, cuma ada beberapa judul film drama romantis yang berbeda dari yang lain. Namun rasanya gue harus menambahkan judul film yang disutradarai oleh Derek Cianfrance ini ke dalam daftar film drama romantis terbaik sepanjang masa gue.

baca selengkapnya...

Henry's Crime

Sobekan tiket bioskop tertanggal 18 Januari 2011 adalah Henry's Crime. Ditengah gempuran film-film yang dinominasikan di Golden Globes 2011, membuat gue ingin menonton film "biasa" yang bahkan hampir tidak terdengar gemanya. Pilihan gue jatuh pada film ini, dan beruntung gue menemukan nama Keanu Reeves dan Vera Farmiga di dalam castingnya yang makin membuat gue ingin nonton film ini.

Henry, seorang pria biasa harus mendekam di penjara karena dituduh merampok bank padahal dia tidak melakukannya. Selepas dari penjara, ia malah menjadi berniat untuk merampok bank yang sama. Sepanjang persiapan, ia dibantu oleh temannya semasa di penjara, Max. Satu waktu, Henry bertemu dengan wanita yang hampir menabraknya, Julie, dan kehadirannya memberikan pengaruh signifikan dalam usaha Henry dan Max untuk merampok bank.

Jujur, judul film ini termasuk salah satu judul film yang tricky dan multi-interpretasi. Sayangnya, gue menginterpretasikan judul ini sebagai judul film kriminal perampokan bank macam Ocean's Eleven. Mirip kan, sama-sama memakai nama karakter utamanya. Tapi yah, memang film ini menceritakan usaha Henry dan kawan-kawan untuk merampok bank. Namun ternyata perampokan bank itu hanyalah sebagai kulit kacangnya saja, masih ada hal yang lebih besar daripada itu. Walaupun hal yang lebih besar itu bukan lagu baru di dunia perfilman.

baca selengkapnya...

The Way Back

Sobekan tiket bioskop tertanggal 15 Januari 2011 adalah The Way Back. Ada beberapa hal yang membuat gue sangat tertarik untuk menonton film ini. Pertama, film ini disutradarai oleh Peter Weir setelah absen selama 7 tahun semenjak Master and Commander: The Far Side of the World (2003). Film-filmnya Peter Weir selalu menyentuh sisi kemanusiaan dengan cara yang berbeda, tentunya kita masih ingat spektakulernya The Truman Show (1998) atau kisah para pelajar yang mencintai puisi di Dead Poets Society (1989). Apalagi film terbarunya ini mengangkat cerita epik yang menurut gue sangat menarik untuk disimak. Terakhir, gue selalu menikmati film-film yang dibintangi oleh Jim Sturgess, setidaknya setelah dia tampil brilian di Across the Universe (2007).

Tahun 1940 dimana Uni Soviet masih berkuasa di sebagian Eropa, sekelompok tahanan yang berasal dari Polandia, AS, bahkan Rusia sendiri mencoba melarikan diri dari Rusia. Sadar bahwa mereka tidak bisa tinggal di daerah komunis, maka mereka harus berjalan kaki sejauh 6500 kilometer melewati dataran Rusia yang dingin, gurun Gobi yang panas, sampai menyeberangi pegunungan Himalaya untuk mencapai India.

Indonesia memiliki seorang musafir yang mengelilingi berbagai negara di Asia Tengah dan sampat saat ini masih melakukan perjalanannnya dengan jalan darat, Agustinus Wibowo. Agustinus melakukan perjalanannya bukan sebagai hobi melainkan sebagai nafas hidupnya. Sementara ketujuh tahanan Gulag di Rusia ini melakukan perjalanannya untuk mencapai kebebasan. Pilihan mereka hanya ada dua; mati di gulag sebagai tahanan atau mati di perjalanan sebagai manusia bebas. Cerita ini diadaptasi dari novel keluaran 1956 berjudul The Long Walk, yang sampai detik ini kebenaran bahwa cerita tersebut adalah kisah nyata masih diperdebatkan (bisa dibaca disini).

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 15 Januari 2011 adalah It's Kind of a Funny Story. Satu-satunya hal yang menarik gue untuk membeli tiket film ini adalah nama Zach Galifianakis yang ada di poster filmnya. Masih segitu engga puasnya gue melihat akting dia di Hangover dan Due Date, apalagi judul film ini yang catchy, jadi ya kenapa tidak.

Seorang remaja berusia 16 tahun, Craig (Keil Gilchrist), dengan keinginan sendiri masuk ke bagian rumah sakit jiwa karena merasa depresi dan ada keinginan untuk bunuh diri. Karena bagian rumah sakit jiwa khusus remaja sedang direnovasi, maka ia ditempatkan di bagian dewasa. Lima hari ditempat itu membuat Craig bertemu orang-orang yang akan membuat dirinya menemukan arti hidup yang berbeda.

Merasa stress, depresi, dan frustrasi sehingga seakan menjadi orang yang paling pathetic di seluruh dunia? Coba datang dan menginap selama lima hari di sebuah instalasi rumah sakit jiwa, lalu renungkan dan pikirkan lagi pandangan anda di awal tadi. Kira-kira itu premis yang ingin diangkat oleh penulis buku dengan judul yang sama, Ned Vizzini, yang kemudian ditulis dan diangkat ke layar lebar oleh duet sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck. Menariknya, Ned Vizzini menulis buku tersebut setelah terinspirasi oleh pengalamannya sendiri yang dirawat-inap di rumah sakit karena depresi. Hanya saja cerita ini didedikasikan untuk para remaja diluar sana yang memiliki keinginan untuk bunuh diri.


baca selengkapnya...

127 Hours

Sobekan tiket bioskop tertanggal 14 Januari 2011 adalah 127 Hours. Semenjak The Beach (2000), gue memang engga pernah melewatkan film layar lebar karya Danny Boyle, yang sudah gue klaim sebagai salah satu sutradara favorit gue. Cuma satu hal tersebut yang membuat gue tidak akan melewatkan film terbarunya ini, tanpa peduli kisah apa yang akan ditampilkannya.

Diangkat dari kisah nyata yang ditulis oleh Aron Ralston sendiri ke dalam autobiografinya, film ini menggambarkan bagaimana perjuangan Aron untuk tetap hidup dan menemukan perspektif baru dalam memandang hidupnya. Seperti kebiasaannya menghabiskan akhir pekan, Aron bertualang mengarungi ngarai di Utah sendirian. Karena satu langkah yang salah, sebuah batu besar menimpa dirinya dan membuat dirinya terjebak di dalam ngarai yang sempit dan gelap. Dengan keterbatasan alat yang dibawa, Aron mencoba bertahan hidup dengan persediaan air minum sebagai tolok ukur hidupnya.

Pertama kali melihat trailer film ini sekitar dua bulan yang lalu, sempat ada sepercik keraguan dalam diri gue yang mengatakan "apa bisa seorang Danny Boyle menggarap kisah dengan premis sempit dan sederhana ini?". Diangkat dari buku autobiografi pula yang rasanya cukup membatasi ruang gerak Boyle untuk bermain-main dengan cerita. Apalagi kita sadar benar bahwa tidak semua film yang diadaptasi dari buku akan sebagus bukunya. Tapi memang sutradara kelahiran Inggris ini memiliki kualitas yang pantas diperhitungkan, yang rasanya akan membuat cerita atau film apapun menjadi sangat menarik. Premis yang sempit - sesempit ngarai yang menjebak Aron - tidak serta-merta membatasi ruang gerak Boyle untuk bermain dengan filmnya.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 13 Januari 2011 adalah Love & Other Drugs. Film ini adalah reuni bagi Anne Hathaway dan Jake Gyllenhaal, setelah terakhir kali mereka beradu akting bersama - juga sebagai pasangan - di Brokeback Mountain (2005). Menarik melihat nama Edward Zwick di kursi sutradara, karena ini adalah film romantis pertama yang digarapnya, setelah ia sukses dengan Defiance (2008), Blood Diamond (2006), dan Last Samurai (2003).

Berlatar tahun 1996, Jamie Randall (Gyllenhaal) adalah seorang salesman obat yang menjual produknya dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Tidak hanya berkelana di rumah sakit, Jamie juga berkelana dari satu wanita ke wanita yang lain. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Maggie Murdock (Hathaway) di satu rumah sakit dan mencoba berusaha mendapatkannya. Walaupun mengetahui bahwa Maggie mengidap gejala parkinson dini, Jamie tetap membangun perasaannya. Ketika tersadar bahwa gejala parkinson itu akan tetap ada sampai akhir hayat karena belum ditemukan obatnya, Jamie pun menjadi mempertanyakan kembali perasaannya terhadap Maggie.

Mengatakan "i love you just the way you are" memang mudah. Tapi ketika dihadapkan pada situasi nyata dan memikirkan konsekuensi yang akan terjadi di masa depan, bisa-bisa kita menambahkan frase "only if" di akhir kalimat tersebut, seperti "i love you just the way you are, only if your parkinson is cured". Rasanya memang ini pertanyaan utama yang hendak diajukan oleh para pembuat film. Kemudian ditranslasikan ke dalam karakter Jamie yang playboy kelas kakap nan ahli meniduri wanita dan Maggie yang sinis dan anti-komitmen tapi juga haus akan seks. Keduanya dipertemukan secara tidak biasa, menjalani proses hubungan yang biasa, namun menjadi tidak biasa ketika konflik dari pertanyaan utama tadi muncul, dan diakhiri dengan ending yang biasa.

baca selengkapnya...

The King's Speech

Sobekan tiket bioskop tertanggal 12 Januari 2011 adalah The King's Speech. Trailer untuk film ini sudah keluar sekitar dua bulan yang lalu dan gue sudah tertarik untuk nonton film ini, bahkan sebelum film ini meraih 7 nominasi Golden Globes 2011. Melihat jajaran cast-nya yang terdiri dari aktor-aktris Inggris papan atas saja sudah membuat gue merinding, mulai dari Colin Firth, Helena Bonham Carter, Geoffrey Rush, Michael Gambon, Guy Pearce, sampai Timothy Spall. Rasanya cuma film ini yang mampu menyaingi Harry Potter dalam soal "orkestra" aktor-aktris papan atas dari tanah Britania Raya.

Cerita yang diangkat dari kisah nyata, seorang pria yang kemudian menjadi Raja George VI. Selepas meninggalnya George V dan kakaknya yang menurunkan mahkotanya, George (Firth) yang enggan pun harus menduduki tahta kerajaan Inggris yang pada waktu itu memimpin hampir seperempat manusia di bumi. George yang sebenarnya bisa menjadi raja yang baik, merasa tidak layak memegang mahkota (hanya) karena satu hal; dia mengalami kesulitan berbicara. Lewat Ratu Elizabeth (Bonham Carter), istrinya, dia pun mencari bantuan untuk menyembuhkan penyakitnya lewat seorang terapis bicara, Lionel (Rush). Di tengah kewajibannya untuk memberi pidato-pidato kerajaan, George membangun hubungan pertemanan yang naik-turun dengan Lionel, yang menggunakan teknik terapi yang tidak biasa.

Kalau memang ada teori yang mengatakan bahwa kita dapat menilai bagus tidaknya sebuah film lewat opening scene-nya, maka film ini dapat menjadi salah satu contoh yang tepat. Film ini dibuka dengan opening credit yang menarik dan artistik, kemudian dilanjutkan dengan adegan awal yang sempurna untuk menjadi pondasi dasar untuk menceritakan tema besar film ini. Sebuah adegan awal yang seakan menjanjikan akan kekuatan drama dan akting dari film ini, dimana Colin Firth dan Helena Bonham Carter memberikan yang terbaik dari yang terbaik walaupun hanya dalam waktu sekian menit. Bahkan bisa gue bilang, adegan awal yang tensinya hampir menyaingi klimaks sekalipun.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 11 Januari 2011 adalah Gulliver's Travels. Semenjak kemunculan trailernya, film ini dipromosikan gila-gilaan di UK sini; mulai dari bis kota sampai botol susu. Entah apa yang mendasari promosi yang kelewatan tersebut, yang sayangnya malah menaikkan ekspektasi gue dalam menonton film ini. Tapi yah film ini tetap sayang untuk dilewatkan.

Gulliver, seorang pengantar surat di sebuah surat kabar ternama yang selalu merasa bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan kecil dan tidak dianggap oleh orang-orang disekitarnya, secara tidak sengaja menerima pekerjaan untuk meliput tentang Segitiga Bermuda. Namun di tengah perjalanannya, dirinya masuk ke dalam dunia pararel dan terdampar di pulau Liliput yang dihuni oleh orang-orang berukuran super-kecil. Walaupun diuntungkan dengan ukuran badannya yang kelewat besar, namun dalam perjuangannya untuk kembali ke diunianya, Gulliver harus mengalahkan dirinya sendiri yang selalu menganggap dirinya "kecil".

Oke, siapa sih yang engga tahu cerita tentang Gulliver yang terdampar di pulau/planet Liliput? Walaupun gue belum pernah melihat dalam bentuk audio-visual, tapi setidaknya gue sudah tahu garis besar cerita fenomenal tersebut. Bahkan Fujiko F. Fujio (alm.) pun pernah mengangkat cerita tersebut ke dalam salah satu serial komik Doraemon. Nah menurut gue film ini adalah langkah yang berani dari Hollywood untuk kembali memvisualisasikan cerita Gulliver namun dalam bungkus modern. Satu (-satunya) hal yang gue puji dari film ini adalah latar belakang cerita - yang kemudian dijadikan makna yang bisa dipetik - dari film ini.

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers